Buka-bukaan soal Franchise A&W: Berapa modal sebenarnya, syarat lokasi yang lolos survei, dan hitungan profit margin realistis. Baca analisis mendalam untuk investor serius di sini.
Pendahuluan Franchise A&W
Bagi Anda yang jeli melihat pergerakan uang di sektor kuliner, pasti menyadari satu anomali menarik: Di tengah badai kebangkrutan gerai kopi kekinian dan ayam geprek yang timbul-tenggelam, gerai A&W (A&W Restaurants Indonesia) justru terlihat tenang dan stabil.
Sebagai praktisi bisnis yang telah membedah ratusan portofolio ritel selama 25 tahun, saya sering mengingatkan klien: “Bisnis bukan soal siapa yang paling viral, tapi siapa yang paling panjang napasnya.” A&W memiliki “napas” itu. Mereka memegang ceruk pasar (niche) yang fanatik—konsumen yang merindukan Root Beer otentik dan Waffle es krim yang tidak dimiliki kompetitor “Ayam Merah” atau “Ayam Biru”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, pertanyaan besarnya bagi Anda pemegang modal: Apakah pintu investasi A&W masih terbuka untuk umum? Dan jika ya, apakah matematika bisnisnya masuk akal untuk situasi ekonomi Indonesia tahun 2026 ini?
Ini adalah “kertas kerja” konsultan Anda. Kita akan mengupas lapisan demi lapisan, mulai dari syarat tersembunyi, estimasi modal (Capex), hingga realita pahit manisnya pengembalian modal.
Pendahuluan: Mengapa A&W Masih Menjadi Primadona Investasi?
Jangan tertipu dengan tampilan luarnya yang klasik. Di balik nuansa retro, A&W adalah mesin uang yang efisien.
Di bawah bendera PT Biru Fast Food Nusantara, pemegang lisensi utama di Indonesia sejak 1985, brand ini telah membuktikan ketangguhannya melewati berbagai krisis ekonomi (1998, 2008, hingga pandemi). Ini adalah poin “The Hook” bagi investor: Stabilitas.
Baca juga: Franchise Cepat Saji Di Indonesia
Pertanyaan Kunci Investor
Banyak yang datang ke meja saya dan bertanya: “Berapa harga franchise A&W sebenarnya?”
Jawabannya tidak sesederhana membeli kacang goreng. A&W Indonesia cenderung sangat selektif dan memprioritaskan ekspansi korporasi. Namun, peluang bagi investor eksternal tetap ada, terutama melalui jalur Kemitraan Lahan (Property Partnership).
Konteks Investasi: Beli Sistem vs Sewa Aset
Penting untuk meluruskan pola pikir Anda. Investasi di level A&W bukan sekadar “bayar uang, lalu terima kunci”. Ini adalah permainan aset.
- Kepemilikan Gerai: Sangat terbatas dan langka (biasanya untuk mitra korporasi besar).
- Kerjasama Properti: Ini jalur paling masuk akal. Anda punya tanah/bangunan strategis, mereka yang mengelola bisnisnya. Anda menikmati pendapatan pasif dari sewa atau bagi hasil.
Syarat Mutlak Investor & Kriteria Lokasi A&W

Jika Anda berniat mengajukan lokasi atau kemitraan, Anda harus berpikir seperti tim survei mereka. Mereka tidak mencari lahan sembarangan; mereka mencari “tambang emas”.
Berikut adalah filter ketat yang harus Anda loloskan:
Profil Finansial Investor (Siapa Anda?)
A&W tidak mencari mitra yang “uangnya pas-pasan”.
- Kekuatan Dana Tunai (Cash Flow):Anda wajib memiliki dana dingin (bukan hasil pinjaman berbunga tinggi) untuk membiayai konstruksi sipil. Estimasi aman untuk bermain di liga ini adalah Modal Besar > Rp 3 Miliar hingga Rp 5 Miliar.
- Kredibilitas Bisnis:Apakah Anda pemain baru? Jika ya, bersiaplah untuk diperiksa lebih detail. Mereka lebih nyaman bermitra dengan entitas yang sudah memiliki badan hukum (PT/CV) atau pengalaman mengelola properti komersial.
Spesifikasi Teknis Lokasi (Site Requirement)
Ini harga mati. Lokasi yang buruk akan langsung dicoret oleh tim Business Development.
- Jenis Lokasi:
- Stand Alone (Gerai Mandiri): Paling prioritas. Bangunan terpisah di pinggir jalan protokol.
- Pusat Keramaian: Berada di dalam Mall (Lantai Dasar/Lower Ground) atau area transit (Bandara/Stasiun/Rest Area).
- Dimensi Fisik (Wajib Terpenuhi):
- Luas Tanah: Minimal 400 m² – 600 m². Angka ini mutlak jika Anda ingin fitur Drive-Thru yang menjadi pencetak omzet terbesar.
- Luas Bangunan: Area operasional minimal 150 m² – 200 m². Dapur QSR (Quick Service Restaurant) butuh ruang gerak sirkulasi udara yang baik.
- Lebar Muka (Frontage): Minimal 15 – 20 meter. Fasad restoran harus bisa “berteriak” memanggil konsumen dari kejauhan.
- Infrastruktur Vital:
- Listrik Industri: Minimal 66.000 VA (3 Phase).
- Sanitasi: Wajib ada jalur pembuangan limbah terpisah untuk instalasi Grease Trap (penyaring lemak), agar tidak mencemari lingkungan sekitar.
Bedah Struktur Biaya & Estimasi Modal (Capex)
Mari kita bicara bahasa yang paling jujur: Angka. Berapa biaya untuk “mendirikan” satu bendera A&W? Berikut adalah simulasi Capital Expenditure (Belanja Modal) berdasarkan standar restoran cepat saji Tier-1.
Rincian Investasi Awal
| Komponen Pengeluaran | Estimasi Nilai (Rupiah) | Catatan Konsultan |
| Biaya Kemitraan/Lisensi | Rp 450 Juta – Rp 750 Juta | Biaya hak penggunaan merek (Intangible Asset) untuk periode 5 tahunan. |
| Konstruksi & Interior | Rp 1,8 Miliar – Rp 2,8 Miliar | Standar A&W sangat spesifik: Keramik, partisi, hingga pencahayaan “retro” harus sesuai panduan pusat (est. Rp 7-9 Juta/m²). |
| Paket Dapur (Kitchen Equipment) | Rp 1,2 Miliar – Rp 1,6 Miliar | Jantungnya restoran. Termasuk Heavy Duty Fryers, Mesin Draft Root Beer, dan Walk-in Chiller. |
| Teknologi (POS & IT) | Rp 150 Juta | Sistem kasir yang terkoneksi real-time ke kantor pusat untuk audit penjualan. |
| Modal Kerja Awal | Rp 250 Juta | Gaji karyawan bulan pertama, stok bahan baku, dan biaya perizinan daerah. |
| TOTAL KISARAN | Rp 3,8 Miliar – Rp 5,5 Miliar | Belum termasuk nilai tanah jika Anda harus membeli lahan. |
Analisis Profit Margin & ROI (Pengembalian Modal)
Di sinilah banyak investor pemula terjebak. Mereka tergiur omzet miliaran, tapi lupa menghitung “apa yang tersisa” (Net Profit).
Simulasi Laba Rugi (P&L)
- Pendapatan (Revenue):Gerai A&W yang sehat di lokasi strategis bisa mencetak omzet kotor Rp 1,2 Miliar – Rp 1,8 Miliar per bulan.
- Harga Pokok (COGS):Di bisnis waralaba global, HPP makanan biasanya dipatok di angka 38% – 42%. Mengapa tinggi? Karena standarisasi bahan baku. Anda tidak bisa beli ayam di pasar tradisional; semua dipasok vendor terakreditasi.
- Beban Operasional (Opex):
- SDM (Gaji & Tunjangan): 12% – 14% (Padat karya).
- Sewa Lahan (Jika sewa): 8% – 10%.
- Utilitas (Listrik/Air/Gas): 4% – 5%.
- Royalti & Marketing: 5% – 6%.
Berapa Uang yang Masuk Kantong?
Setelah dikurangi semua komponen di atas, Profit Bersih (Net Profit) yang wajar untuk industri ini berkisar antara 11% – 16%.
Artinya, jika omzet Rp 1,5 Miliar, profit bersih yang bisa dibawa pulang adalah sekitar Rp 165 Juta – Rp 240 Juta per bulan.
Kapan Balik Modal (BEP)?
Dengan investasi Rp 5 Miliar dan profit rata-rata Rp 200 Juta/bulan:
- Secara matematis: 25 bulan (2 tahun lebih).
- Realita Konsultan: Saya selalu menyarankan klien mematok target BEP di 3,5 hingga 4,5 tahun. Kita harus memperhitungkan faktor renovasi berkala, kerusakan alat, dan fluktuasi daya beli.
Cara Mengajukan Kerjasama (Step-by-Step)
Tertarik meminang Franchise A&W untuk menempati lahan Anda? Jangan asal telepon. Lakukan dengan profesional.
- Tahap 1: Audit Mandiri LokasiSebelum menghubungi pusat, cek dulu: Apakah lokasi Anda bebas banjir? Apakah akses masuk mobil mudah? Apakah terlihat jelas dari jarak 100 meter?
- Tahap 2: Penyusunan Proposal LahanBuat dokumen satu halaman (One Pager) yang berisi: Foto lokasi, peta Google Maps, luas tanah, legalitas (SHM/HGB), dan estimasi keramaian lalu lintas.
- Tahap 3: Kontak ResmiKirimkan penawaran ke Departemen Real Estate atau Pengembangan Bisnis PT Biru Fast Food Nusantara. Hindari perantara tidak resmi.
- Tahap 4: Survei Lapangan (Site Visit)Jika lolos seleksi administrasi, tim mereka akan datang. Di sini Anda bisa bernegosiasi: Apakah sistemnya Sewa Putus (Jual-Beli Sewa) atau Bagi Hasil (Revenue Sharing).
Risiko Bisnis yang Wajib Diketahui (Manajemen Risiko)
Sebagai penasihat bisnis yang objektif, saya wajib menyampaikan sisi pahitnya.
- Kanibalisme Pasar:Membuka gerai baru terlalu dekat dengan gerai lama hanya akan memindahkan omzet, bukan menambahnya. Pastikan radius aman minimal 3-5 KM.
- Volatilitas Bahan Baku:A&W sangat bergantung pada komoditas ayam dan minyak. Kenaikan harga global akan menekan margin keuntungan Anda, sementara menaikkan harga menu ke konsumen tidak bisa dilakukan sembarangan.
- Pergeseran Tren Sehat:Meskipun lambat, kesadaran masyarakat akan kalori makin tinggi. Restoran cepat saji punya tantangan jangka panjang untuk tetap relevan di lidah Gen-Z yang makin kritis.
Kesimpulan & Rekomendasi Ahli
Vonis Saya:
Investasi di ekosistem Franchise A&W adalah permainan High Risk, High Return yang sangat bergantung pada aset properti.
- Sangat Direkomendasikan Bagi: Pemilik lahan luas di jalan utama yang bingung mau diapakan tanahnya. Jadikan A&W sebagai penyewa utama (Anchor Tenant) untuk menaikkan nilai properti Anda.
- Tidak Disarankan Bagi: Pensiunan dengan uang pesangon terbatas yang ingin “memutar uang” secara cepat. Risikonya terlalu besar untuk profil dana pensiun.
Langkah Selanjutnya:
Jika Anda memiliki aset tanah di atas 500 m² di kota tier-1 atau tier-2 (seperti Bekasi, Surabaya, Bandung), segera siapkan proposal. Namun jika modal Anda di bawah Rp 1 Miliar, saran saya: liriklah waralaba kuliner lokal yang sedang bertumbuh (scale-up) namun memiliki manajemen profesional.
FAQ (Pertanyaan Umum)
1. Apakah A&W Indonesia membuka sistem franchise untuk perorangan?
Sangat jarang. Model bisnis utama mereka saat ini adalah ekspansi korporasi (milik sendiri). Peluang terbesar bagi perorangan adalah lewat jalur Sewa Aset atau Kerjasama Bagi Hasil lahan.
2. Berapa luas tanah minimal untuk konsep Drive-Thru?
Anda membutuhkan lahan “bersih” minimal 400 m² hingga 600 m². Kurang dari itu, sirkulasi kendaraan akan macet dan ditolak oleh tim survei.
3. Berapa persentase bagi hasil jika saya menyewakan lahan ke A&W?
Dalam skema Revenue Sharing sewa lahan, angka wajar di industri ini adalah 2% sampai 5% dari omzet kotor bulanan, atau nilai sewa tetap (Fixed Rent) yang disepakati di awal kontrak (biasanya 5-10 tahun).









